Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]

RITUAL PESAREAN GUNUNG KAWI


Keraton Gunung Kawi

Bosan menjadi orang miskin? Ya itulah yang sering dikeluhkan banyak orang karena beban hidup yang tidak kunjung selesai. Berbagai masalah keuangan silih berganti mengganggunya. Yang pada akhirnya banyak orang sering mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah keuangannya. Yaitu dengan jalan melakukan ritual khusus atau di luar kebiasaan sehari-hari. Dan ritual itu harus dilakukan ditempat yang sudah ditentukan oleh orang yang mempunyai kemampuan supranatural.

Mitos bahwa pesarean Gunung Kawi berhubungan dengan kekayaan bukan sekedar isapan jempol belaka. Banyak pengunjung yang datang ke sana mengaku ingin memakmurkan kehidupannya.

Anda tidak perlu khawatir, rasa haus wisata ritual akan terobati di sana. Rasa lelah pun tidak akan terasa, ketika kita melihat pemandangan yang indah sepanjang perjalanan. Tempat ini pun menawarkan hawa yang sejuk dan menyegarkan kerana memang tempat ini terletak pada ketinggian 500 hingga 3000 meter di atas permukaan laut. Persisnya terletak di kecamatan wonosari kabupaten Malang, Jawa Timur.

Dengan luas hampir 68,5 km2, jumlah penduduk 44 juta jiwa. Dulu daerah ini disebut Ngajum, kemudian berubah menjadi Wonosari karena adanya makam Eyang Raden Mas Zakaria alias Mbah Jugo, sejak 1980 hingga sekarang menjadi tempat wisata spiritual. Wonosari dimaksudkan sebagai pusat rezeki yang dapat menghasilkan uang secara cepat.

Sesampainya di sana, anda akan merasakan suasana magis yang begitu kental, karena bau dupa tercium di mana-mana. Jika anda naik lagi sekitar 700 m menuju sebuah petilasan Prabu Sri Kameswara, suasana magisnya lebih terasa lagi. Banyak orang menyebutnya sebagai keraton.

Perlu waktu perjalanan setengah jam dari makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo. Ditempat itulah banyak orang meyakini sebagai tempat pesugihan.

Konon, pada tahun 1200 Masehi lokasi ini merupakan tempat pertapaan Prabu Kameawara, seorang pangeran dari kerajaan kediri yang beragama hindu. Saat terjadi polemik yang tak kunjung terselesaikan, ia mencoba untuk bertapa di lokasi ini. Setelah mendapatkan petunjuk, Prabu Kameswara berhasil menyelesaikan kekisruhan di kerajaan.

Setelah petilasan Prabu Kameswara, di tempat ini juga ada pohon seperti pohon beringin tua berakar lima dipercaya sebagai makam Eyang Jayadi Raden Ayu Tunggorowati keturunan Raja Kediri pada tahun 1221 Masehi.

Kemudian ada lokasi yang juga tidak luput dari mitos pesugihan yaitu makam juru kunci I, Eyang Subroto, Eyang Djoyo, dan Eyan Hamid. Masyarakat biasanya mengadakan ritual sesaji,embakar dupa dan betsemedi di sana pada hari kamis legi, jum'at legi, jum'at kliwon, dan malam suro.

Kalau ritual yang dilakukan di likasi Eyamg Jugo fan Eyang Sujo terutama pada saat tamggal 12 pada bulan Suro, hari Minggu Legi atau pada Jum'at Legi. Tanggal 12 pada bulan Suro diyakini sebagai hari wafatnya Eyang Sujo, sedangkan Minggu Legi diyakini sebagai hari wafatnya Eyang Jugo. Pada hari Jum'at Legi sebagai hari pemakamannya.

Anda akan mendapati tiga gapura dengan anak tangga sejauh 750 meter yang disetiap gapuranya terdapat relief perjuangan Eyang Jugo dan Eyang Sujo
 Ryang Jugo memiliki gelar kyai Zakaria, sedangkan Eyang Sujo memiliki gelar Raden Mas Imam Sujono. Konon keduanya merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro saat melawan Belanda. Mereka mengasingkan diri di tempat ini, karena Pangeran Diponegoro tertangkap dan diasingkan oleh Belanda.

Sejak tertangkapnya Pangeran Diponegoro, mereka mengubah perjuangan fisik menjadi perjuangan melalui pendidikan. Termasuk penyuluhan pertanian, irigasi, kesehatan dan penyebaran agama Islam.

Di sana ada jam berkunjung seperti pagi jam 08.00-14.00, malam jam 19.00 sementara jadwal berkunjung untuk berkeliling tengah malam dimulai jam 24.00 dan berlaku hanya satu jam saja. Para peziarah hanya disyaratkan membawa bunga sesaji dan menyisihkan sedikit uang seadanya.

Konon kepercayaan yang berkembang, semakin banyak uang yang disumbangkan maka semakin besar pula kemungkunan harapannya akan terkabul. Adapun ubtuk masuk ke makam, peziarah diwajibkan berjalan dengan lutut,seperti saat menghadap raja.

RM. nanang Yuwono Hadiprojo keturunan ke-5 dari RM. Imam Sujono mengatakan bahwa sesungguhnya tempat ini bukan untuk mencari pesuguhan dan keyakinan seperti ini tidaklah beralasan. Menurut tempat-tempat untuk mencari pesugihan biasanya menyeramkan, jauh dari pemukiman, dan tidak ada tempat ibadahnya. Sementara di tempat ini justru kebalikannya.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib